SEKILAS INFO
02-03-2024
  • 6 bulan yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru Mulai 1 Septeber 2023
  • 3 tahun yang lalu / Website Resmi SMA IT Al-Madinah Cibinong “Bringing You to the Future”
7
Feb 2023
0
Pola Asuh Orangtua dalam Membentuk Karakter dan Kompetensi yang Baik untuk Siswa

Di era global saat ini bukan hal yang mudah untuk mendidik putra-putri dirumah, terlebih karena berkembangnya zaman yang dimana hal tersebut juga tentu membuat pola asuh (didik) yang juga berbeda. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Pahlawan Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara beliau mengatakan bahwa setiap anak tumbuh dan berkembang pada zamannya masing-masing. Lalu, bagaimana dengan pola asuh orang tua hebat dalam membentuk karakter dan kompetensi yang baik untuk putra putrinya?

Sebelum lanjut, mari kita simak lebih dulu apa sih yang dimaksud dengan pola asuh itu? Pola asuh dapat diartikan sebagai sistem, cara kerja atau bentuk dalam upaya menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil supaya dapat berdiri sendiri. Selain itu, pola asuh orang tua dapat diartikan sebagai interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan peng-asuhan. Pola pengasuhan adalah proses memanusiakan atau mendewasakan manusia secara manusiawi, yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta perkembangan zaman.

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan pola asuh, sekarang mari kita simak penuturan dari Mama Danish tentang bagaimana cara mengasuh anak sehingga memiliki anak yang memiliki karakter dan kompetensi yang baik.

Pada zaman yang serba digital saat ini, tentu pola asuh dan pengajaran pada anak sangat berbeda dengan zaman dahulu. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan bagi saya, karena tidak mudah untuk mengasuh dan mendidik anak pada saat ini terlebih saya seorang pekerja. Namun, walaupun demikian saya tidak pernah lupa untuk menyisihkan waktu untuk terjun langsung mengajarkan anak saya sepulang dari kantor. Mulai dari bertanya apa kesulitan yang dialami selama di sekolah, bertanya bagaimana dengan tugas yang diberikan oleh guru apa sudah dikerjakan atau belum dan bagaimana untuk melakukan kewajiban sebagai muslim yaitu sholat lima waktu.

Diluar itu juga tidak lupa saya mengajarkan Danish bagaimana cara bertanggung jawab, bukan hanya bertanggung jawab pada diri sendiri, tapi juga bagaimana cara bertanggung jawab dengan statusnya sebagai pelajar, dan tentunya bertanggung jawab sebagai umat beragama. Selama ini saya selalu mendidik anak saya agar memiliki prinsip yang baik dalam hidup dan selalu bisa berkata jujur pada siapa pun, memiliki sikap disiplin, serta memiliki rasa toleransi dan tenggang rasa antar sesama. Untuk melatih rasa tanggung jawabnya sebagai pelajar, dari bangku taman kanak-kanak Danish sudah saya latih untuk mengerjakan tugas tepat waktu dan Alhamdulillah terbawa hingga ke bangku SMA saat ini. Terlepas dari hal itu, sebagai anak Danish juga pasti memiliki naluri untuk bermain dan memiliki rasa bosan untuk belajar. Dengan adanya kendala tersebut, saya sebagai orangtua tidak boleh dan bisa memaksakan hal tersebut maka dari itu,  saya akan memberikan reward atau hadiah yang diinginkan Danish ketika bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Sebagai orangtua saya juga terus belajar bagaimana mendidik dan mengasuh anak saya dengan baik agar menjadi anak yang memiliki kompetensi dan karakter yang baik. Maka dari itu, saya sebagai orangtua harus menyeimbangkan antara kedua unsur tersebut, supaya tidak hanya unggul dalam kompetensi saja tapi juga harus berkarakter baik sebagai anak sekaligus pelajar